Di dorong oleh cita-cita besar seorang anak kecil yang hanya anak seorang petani, anak seorang pedagang kecil kandas di tengah perjalanan yang begitu terjal dan berduri hingga terkapar menjadi tidak jelas. Anak tersebut memendam kerinduan besar kecintaan yang besar pada negerinya sekaligus keresahan dan kegelisahan yang amat berkepanjangan di perjalan hidupnya yang kini mau menginjak usia puluhan tahun yang di mulai sejak usia kecil, harus kandas oleh ”kebodohan”nya sendiri, semoga bukan “kebodohan” penguasa. Biarlah kuwakili anak-anak negeri yang tak beruntung itu melalui tulisan ini.
Di setiap tempat yang aku pijak, hampir tak pernah tersenyum, miris hati di setiap langkah, marah, menangis, pilu, sedih adalah sahabatku yang selalu setia menemani jalan-jalannya. Kalah adalah hal biasa dalam perjalanan hidup ini hingga terkapar dan mencoba bangkit kembali. Begitu banyak kalimat yang ingin kurangkai dan kusuarakan namun keterbatasan maka kutampilkan saja apa adanya meski dari suara yang tak utuh dan hampir tak tersentuh. Karena kuyakin banyak anak negeri seperti itu?.
Kutuliskan bukan karena haus popularitas… ingin memelas… ingin berbagi rintihan… tapi sejenak kesadaran semoga menjadi inspirasi, membangunkan negeri yang sedang lelap oleh mereka yang haus kuasa dari meski mungkin dangkal. Mungkin bisa di bilang impoten di atas kekalahan atau mungkin efek stress. Tapi biarlah aku tak peduli bukankah di negeri sudah banyak yang tak peduli lagi.
Tapi biarlah pelangi kehidupan terpatri pada setiap jiwa anak negeri meski banyak yang tak peduli mimpi-mimpinya karena demikianlah hidup di teteskan pada setiap jejak kehidupan dalam pergantian dan dinamikanya, karena aku adalah anak yang kalah. Kalah oleh kebodohannya ha ha ha, maaf.
Mungkin Tuhan mengajakku menyelami sisi-sisi kehidupan untuk melihat secara jelas dan dekat merasakan sisi-sisi kehidupan yang sarat dengan penderitaan, kelemahan, kebusukan, keangkuhan, dan kemunafikan termasuk yang melanda diri penulis sendiri. Karena ada beberapa keajaiban yang saya rasakan dalam perjalanan tersendat-sendat ini hingga tergerak perlahan-lahan sedikit bisa menyuarakan suara hati seorang petani. Akhirnya hanya berjuta syukur yang kupanjatkan pada-Nya, atas setiap hirup dan hembus napas. Pada-Nya tempat memohon
Demikianlah
pengantar ini…yang akan menjadi seri berangkai perjalanan hidup seorang
petani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar